GUNUNG PEGAT

Gunung Pegat Desa Gajah Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro

Gunung Pegat adalah pegunungan kapur yang membentang dari Desa Gunungsari melewati Desa Gajah dan berakhir di Desa Puncakwangi. Gunung ini juga berfungsi sebagai dinding pembatas desa. Dulu pegunungan ini dijadikan sebagai benteng pertahanan kolonial Belanda yang pernah menjajah Indonesia. Bukan hanya itu, para penjajah juga memperlakukan masyarakat saat itu seperti hewan. Mereka disuruh bekerja tanpa mengenal siang ataupun malam dan tanpa diberi upah sepeser pun. Istilah ini juga sering dikenal dengan kerja ‘’rodi’’. Saat itu masyarakat disuruh membangun jalan kereta api dan jalan umum yang menghubungkan Jawa Timur bagian selatan dan Jawa Timur bagian utara, tepatnya pada tahun 1917. Dengan susah payah masyarakat berusaha maratakan gunung untuk dibuat jalan. Tidak sedikit korban jiwa dalam pembangunan jalan itu. Oleh karena itu, masyarakat menyumpahi dengan perkataan ‘’ Barang siapa yang menikah dan melewati jalan ini tanpa memberikan sesji maka akan bercerai  (pegatan)’’ sehingga disebutlah dengan Gunung Pegat.

Di tebing pegunungan ini, terdapat relief bergambar ayam jago, yang berarti jika ada orang yang menikah melewati pegunungan ini, baik dari utara gunung maupun selatan gunung harus melempar ayam dan sesaji berupa beras kuning yang diwadahi takir atau daun pisang yang dibentuk kerucut. Jika tidak melakukan ritual ini, maka pernikahan yang dilaksanakan tidak akan langgeng (cepat bercerai). Ritual ini sudah menjadi kepercayaan  yang telah melekat dihati para warga masyarakat luas. Namun, ada juga orang yang tidak mempercayai mitos ini dan mereka pun berpisa karena mitos ini sangat kuat. Meskipun demikian, peristiwa itu sebenarnya tergantung pada orangnya, mau percaya atau tidak karena keyakinan dalam hati adalah penentu berhasil tidaknya sebuah hubungan rumah tangga.

Di pegunungan kapur ini terdapat banyak gua. Dan di dalam gua dihuni oleh sekawanan kelelawar liar. Tak jarang jika warga di sekitar pegunungan kapur sering mencari kotoran kelelawar untuk dijadikan pupuk tanaman mereka karena sebagian besar warga Desa Gajah bermata pencaharian sebagai petani. Selain menjadi tempat tinggal  kelelawar, gua ini juga mempunyai cerita-cerita unik bin aneh.

Di Desa Gajah ada dua gua yang sangat terkenal yakni Gua Judeg dan Gua Nggampeng. Gua Nggampeng berada di sebelah timur, tepat di tengah Gunung, sedangkan Gua Judeg berada di sebelah barat dan tepat di puncak tertinggi gunung di samping tower listrik.

Gua Nggampeng mempunyai cerita mistis tersendiri. Konon dulu orang yang akan membuat suatu grup kesenian tradisional seperti sandur, kuda lumping, reog ponorgo, ataupun atraksi-atraksi lain, harus mengambil roh atau arwah halus dari gua ini dengan cara bertapa di dalamnya sampai ada orang itu sudah ada yang mengikuti. Oleh karena itu, pada kala itu gua ini sering dikunjungi oleh banyak dukun. Arwah atau roh halus yang diambil ini biasanya disebut dengan sintren. Sintren ini akan memasuki tubuh orang yang memainkan akrobat sehingga tidak akan ada kecelakaan, sedangkan pada kesenian kuda lumping sintren ini akan bereaksi seperti orang yang kesurupan seperti biasannya.

Berbeda dengan Gua Nggampeng, Gua Judeg memiliki keindahan yang memancar keluar sehingga pernah dijadikan lokasi pengambilan gambar film berjudul  ‘’Srinthil’’ yang sangat terkenal pada masa itu.

Di pegununan kapur ini sering digunakan sebagai pengambilan foto prewedding dan video clip oleh teman teman dari Ponpes Langitan Widang, Tuban. Tak hanya itu, para muda-mudi sering berselfi ria di sini. Keindahan Desa Gjah dapat dilihat dari puncak tertinggi atas gunung ini. Apalagi, jika Anda mengunjunginya di pagi atau sore hari, Anda akan disuguhi fenomena alam yang sangat fenomenal, yakni tenggelamnya sang surya dan munculnya sang surya yang begitu indahnya (sunset dan sunrise).

Keindahan yang dipancarkan oleh Gunung Pegat bak bunga mawar yang baru merekah dipagi hari membuat gunung ini menjadi incaran perusahaan-perusahaan dari Surabaya untuk mengambil kekayaan alamnya. Pada tahun 2010 pun PT Wira Bumi mandiri melakukan eksploitasi besar-bedaran di Gunung Pegat ini. Para warga, yang menganggapnya sebagai penambang liar karena belum mendapatkan izin resmi dari desa, melakukan demo besar–besaran dan sempat merusak tiga buah bego yang sedang melakukan aktivitas penambangan, walaupun sebenarnya mereka sudah mengantongi izin dari kepala desa saat itu, Slamet, dan saat itu penambangan dihentikan untuk sementara waktu.
 Namun pada tahun 2013, PT Wira Bumi kembali datang untung meneruskan proses penambangan yang belum selesai. Kali ini warga desa tidak dapat berkutik lagi karena PT Wira Bumi mendapatkan izin yang sah dari lurah baru dan tokoh–tokoh warga. Dan keindahan Gunung Pegat kini berganti dengan tebing-tebing curam yang bisa saja membuat nyawa kita melayang. Bunga mawar yang dulunya merekah cantik kini hanya menyisakan batang saja karena putik-putiknya telah jatuh berguguran.

Kejanggalan demi kejanggalan terus saya rasakan saat itu. Mulai tokoh masyarakat yang hanya menandatangani surat pernyataan setuju walaupun seluruh warga desa tak ada yang setuju. Pembangunan istana bagi para pekerja dan tokoh masyarakat yang ikut andil dalam penambangan tersebut. Sedangkan warga desa hanya diberi Rp 500.000,- dan harus kehilangan mata pencaharian mereka sebagai pembuat batu umpak, dengan anggaran lainnya diberikan untuk memperbaiki infrastruktur desa. Pekerjaan yang seharusnya berakhir pukul 17.00 molor menjadi pukul 20.00 dan jam kerja pada pagi hari yang seharusnya diawali pada pukul 07.00 namun pada pukul 05.00 suara bego sudah menggema sehingga terasa bising di telinga. Dan adanya dugaan prostitusi terselubung para pekerja yang bermalam di cafe café karaoke di sana.

Sangat ironi memang kini tidak ada lagi udara segar di sana. Hanya debu berterbangan yang bisa saja membuat banyak sekali penyakit juga asap kendaraan yang lalu lalang masuk dan keluar area penambangan. Kini, Desa Gajah tak punya SDA yang dapat digali dan dijadikan mata pencaharian kembali, banyak pengangguran terjadi di sini, juga tanah yang kini milik jasa perumahan. Mungkin sekarang mereka kaya dan dapat menikmati hidupnya, namun saya yakin duapuluh tahun kedepan warga masyarakat Desa Gajah tak punya apa-apa dan akan hidup sebatang kara. Itu mungkin dapat diperbaiki  lagi jika pemerintah desa bukan hanya mengambil sumber daya alamnya saja namun juga memikirkan dan mengembangkan sumber daya manusia Desa Gajah yang seharusnya mencetak produk dan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga nantinya tidak akan ada lagi.

Widiawati Kholifa
Semoga bermanfaat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASAL USUL DESA GAJAH KECAMATAN BAURENO KABUPATEN BOJONEGORO